Kyoto in spring
I.
Kupikir kamu cinta
Memenjarakan kita pada kata
Meniupkan janji
Sehidup semati?
II.
Kukira kita selamanya
Sampai suatu sore, ku melihat tanganmu melingkar manis di punggungnya
Kau pikir aku buta?
Atau memang sengaja?
III.
Aku menyangkal
Kau berdalih,
“Menjadi Barat itu berat, sayang.”
Sayang katamu?
Rayuanmu sudah lewat batas tenggang tanggal kadaluarsa
Ia menjadi busuk
Busuk sekali
Sepertinya mulutmu tertukar dengan anus
IV.
Kau meyakinkan
Aku tetaplah semesta
Sedangkan dia hanyalah sementara
Kau bilang, “Berjuanglah sebentar lagi.”
Cih!
Kau minta aku berjuang sedangkan kau berperilaku seperti jalang?
V.
Bukan menjadi Barat yang berat, keparat.
Hanya saja, kau memang bukan Barat.
Dan selama ini,
Aku membarat-baratkan hal yang bukan Barat.
VI.
Aku berlari ke Timur
Lalu belok ke Utara
Memaksa membenamkan mentari di arah Selatan
Agar gelap menjadi selamanya
Dan kau,
Kebingungan mencari jalan untuk menemukan
VII.
Sejurus kemudian kau menyadari
Bahwa dia tidak seperti aku dengan debar paling sabar
Kau menyesal
Aku menghilang
Lalu kau bilang, aku anjing.